Pendengar Diana

Belum terlalu larut malam untuk Diana pulang ke kost, ini kali pertamanya dalam 6 bulan Diana pulang lebih awal dari biasanya. Pukul tujuh malam Diana sudah bisa meninggalkan pekerjaanya di kantor merupakan hal yang patut dirayakan. Bukan karena bos yang menuntutnya bekerja terus menerus, bukan pula Diana yang tidak bisa membagi waktu pekerjaanya yang hasilnya dia harus lembur, tidak begitu. Diana hanya sengaja pulang lebih malam agar sesampainya di kost dia bisa langsung tidur dan tidak memikirkan hal-hal yang tidak jelas. Seperti menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan segala yang terjadi pada hidupnya baru-baru ini.

Diperjalanannya menuju kost, ia melipir ke arah kedai kopi dekat kost nya. Hanya untuk duduk santai sambil membaca novel yang telah ia beli 2 hari yang lalu di Toko Buku Sanubari. Bukan buku keluaran baru. Ia memilih novel Raksasa dari Jogja yang sebenarnya sudah sering ia baca namun novel tersebut hilang di kereta ketika ia hendak menyambangi tantenya di Surabaya dari Jogjakarta.

                “Ada apa lagi ini?” Mia menghampiri Diana

                “Sudah gak sibuk? Tumben banget lu bisa duduk disini nemenin gue”

                “Kedai gak terlalu ramai, jadi bisa basa-basi dulu ke lu”

                “Sialan” tertawa kecil

                “Tumben banget jam segini udah balik dari kantor. Udah mulai ga kesurupan nih”

                “Mau lembur bagaimana pun gaji gue tetep segitu, lembur gue dianggap loyalitas”

                “Pahaaam gueeee... 2 tahun lu ngeluh itu mulu tapi ga pernah resign. Basi lu”

                “Males mengulang interview, males jawabin semua pertanyaan HR”

                “Jadi udah bener-bener move on?”

                “Tiba-tiba banget...” Diana menutup novel & memandang Mia

    “Come on, lu lembur tiap saat pasti lu lagi ada masalah. Semua temen deket lu dah paham  gelagat lu. Udah bener-bener gila kerja nyatanya cuman nyibukin diri aja biar ga nangis di kost kan lu. Sifat kayak gini udah lu lakuin jaman kuliah sampai sekarang masih konsisten”

   “Lu pasti marah kan karena gue ga ikutan reuni kuliah sebulan yang lalu?”

   “Lebih baik lu memang ga ikutan reuni sih kemaren, lu pasti ngamuk”

   “Gue hanya gagal nyari yang bener aja. Terlalu mulus jalan gue semakin gue curiga endingnya pasti tak sebaik awal”

   “Lu kurang sedekah deh kayaknya, masalah cinta lu sama semua”

Diana hanya tertawa mendengarkan Mia yang selalu ngomel dengan akhir cerita cinta sahabatnya ini. Tak ada yang menyangka bahwa 3 kali menjalin hubungan akan berakhir dengan kehadiran orang ketiga. Bukan kemauan Diana untuk menentukan akhir cerita nya, hanya saja ini telalu mengenaskan untuk dijadikan bahan lelucon sahabatnya.

                “Kembalilah membaca novel, kurasa sudah mulai banyak pelanggan lagi”

Diana kembali membaca novel sambil menunggu Mia bekerja. Mia adalah pemilik kedai kopi yang sering ia datangi karena berlokasi dekat dengan kost. Mia adalah sahabatnya sejak kuliah, bertemu pertama kali karena sama-sama tidak membawa atribut ketika masa ospek fakultas.

Diana juga menyukai interior kedai kopi milik Mia ini. Bangunan yang tak terlalu besar dan terdiri dari 2 lantai. Hampir seluruhnya menggunakan kayu sebagai material utamanya. Ketika masuk ke kedai ini akan langsung berhadapan dengan meja barista dan disebelahnya ada 2 meja dengan masing-masing meja hanya memiliki satu kursi. Beranjak ke lantai 2, akan disuguhkan dengan jendela besar dibagian tengah yang menghadap ke jalan setapak dan akan selalu terbuka. Kedai kopi yang tidak menggunakan penyejuk udara. Meskipun tidak menggunakan penyejuk udara kedai ini sangat teduh, di depan kedai terdapat pohon besar yang sangat rimbun hingga melebihi bangunan itu sendiri dan beberapa tanaman disekitar kedai semakin menambah rimbun kedai kopi ini. Di lantai dua terdapat 3 meja dengan masing-masing meja hanya 2 kursi. Konsepnya memang diperuntukkan untuk orang-orang yang senang menyendiri. Bukan untuk ramai-ramai. Kalau ditanya ke Mia, konsep kedainya hanya untuk orang-orang introvert seperti Mia, tidak menyukai kebisingan.

Mia memang sangat suka semuanya natural, padahal kalau berkunjung ke rumahnya ia juga menggunakan air conditioner di kamarnya. Kalau diledek ia pasti membela dirinya bahwa ini adalah rumah orangtuanya, ia tak bisa mengubahnya menjadi kemauannya.

Diana bersyukur mengenal Mia karena hanya Mia bisa mengerti isi hati dan pikiran Diana tanpa harus Diana mengatakannya. Mia sangat sensitive dengan hal kecil perubahan Diana. Meskipun begitu Mia tidak pernah menanyakan apa masalah yang sedang Diana lalui ketika ia bisa tiba-tiba menjadi wanita yang gila kerja dan tak bisa ditemui. Mia cukup sabar untuk menahan seluruh pertanyaanya. Mia percaya Diana akan menceritakan a sampai z kepadanya dengan rinci hingga terkadang solusi dari masalahnya sudah ia putuskan. Begitulah Diana. Ia akan mengambil solusi dengan pendapatnya sendiri, bukan pendapat orang lain.

Menjadi sahabat tidak perlu banyak bicara untuk menasehati namun lebih banyak menggunakan sepasang telinga yang siap mendengarkan semua keluh kesah hingga berjam-jam lamanya. Menurut Diana dan Mia, jika bukan sahabat siapa lagi yang akan menjadi pendengar yang baik. Bahkan keluarga pun terkadang lebih sering merundung tanpa mau mendengar penjelasan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Hujan Datang #3

Bello, I'm Back on Blog