Pemeran Ekstra
Ternyata Tuhan ku tidak tidur. Ternyata Tuhan ku mengamati ku. Ternyata Tuhan ku sedang tertawa. Ternyata Tuhan ku mempermalukan ku. Ternyata.... aku sangat bodoh.
Ternyata aku hanya pemain ekstra dari sebuah romansa rumit
pemilik cerita yang usang. Pemain ekstra yang diberi nyawa hanya untuk meratapi
nasib dan ketiban sial bertubi-tubi. Mengisi kekosongan situasi agar lebih
menarik banyak penonton. Melolong bagai anjing hutan yang sedang melihat seekor
mangsa, mengejar terus menerus walaupun ternyata itu hanya pantulan sinar
rembulan, bukan mangsa. Sia-sia. Lelah tiada akhir.
Pemain ekstra yang katanya sudah menjadi lebih baik,
ternyata lebih buruk. Ironi.
“Sudah
sadar?” seorang wanita paruh baya menepuk
pundak Diana
“Hmmm...
ternyata aku tidak lebih baik dari sebelumnya. Sangat sulit menjadi baik”
“Menjadi
baik tidak bisa instan. Ada proses yang harus kamu lewati”
“Sulit
ternyata, menyita banyak waktu dan menumpuk kenangan”
“Kenangan
yang mana nih? Kenangan baik? Atau buruk?” mengejek
“Awalnya baik tapi kini ku
paham, semuanya menjadi buruk karena sudah jelas”
“Menjadi
buruk saja harus menunggu selama ini yah. Menyedihkan”
“Jadi
bingung harus tertawa atau menangis” tertawa
kecil
“Tidak perlu
memaafkan terlalu cepat, luka mu cukup besar. Pada akhirnya aku menggunakan
kalimat sejuta umat, waktu yang akan menghapus lukamu”
“Ada yang
kuyakini dari dulu kalau aku tidak sakit hati berarti apa yang aku lakukan
kemarin adalah kebohongan. Aku tau setiap keputusan ku, aku serius”
“Hanya
bertemu dengan orang yang salah kesekian kalinya, akan membuatmu kuat”
“Aku tidak
sekuat itu, ketika sadar aku sangat membenci diriku dan tentunya pemeran utama”
“Pastikan
kamu menyelesaikan skenario mu dengan baik, buatlah happy ending”
“Akan ku
pastikan aku hanya muncul di skenario ku sendiri, tidak pada skenario sebelah”
“Good job”
Diana meninggalkan nenek penjaga toko buku yang berada di
pojok pasar tradisional. Toko Buku Sanubari. Toko buku yang sudah berdiri lebih
dari 20 tahun. Diana memiliki jadwal setiap minggu untuk berkunjung ke toko
buku tersebut, bukan untuk membeli namun hanya menyambangi sang penjaga toko,
ya, namanya adalah Nenek Bari. Diana pernah bertanya kenapa nama toko bukunya
diberi nama Sanubari, jawabannya sungguh menggelitik. Toko Buku Sanubari adalah
hadiah terakhir dari suaminya sebelum meninggal. Sanubari memiliki makna
jantung hati, jadi bisa diartikan bahwa suami nenek menganggap nenek Bari
adalah jantung hatinya. Jangan tertawa, ini sungguhan.
Tidak untuk membeli buku, Diana kesana hanya ingin
mencurahkan hati atau sekedar merenung diantara buku-buku tua koleksi Nenek
Bari. Menurut Diana, tidak ada seorang pun yang bisa ia percaya untuk menjaga
rahasianya. Nenek Bari tahu betul bagaimana Diana dan selalu mendengarkan keluh
kesahnya tanpa menghakimi seluruh tindakannya.
Diana membuat kesalahan sekali lagi. Diana terlalu dalam
menikmati perannya sebagai pemain ekstra sampai tidak tahu kapan ia harus out frame.
Menjadi pemeran ekstra di skenario sebelah adalah yang
terberat. Seakan-akan menjadi pemeran utam serta lampu sorot panggung yang
terus menyoroti, membuat penonton semakin bersorak. Larut dalam peran hingga
terkejut namanya sudah tidak ada lagi dalam skenario sebelah yang seharusnya happy ending.
Diana terlalu percaya bahwa hidupnya akan berakhir seperti
cerita disney yang bahagia.
Komentar