Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2021

Pendengar Diana

Belum terlalu larut malam untuk Diana pulang ke kost, ini kali pertamanya dalam 6 bulan Diana pulang lebih awal dari biasanya. Pukul tujuh malam Diana sudah bisa meninggalkan pekerjaanya di kantor merupakan hal yang patut dirayakan. Bukan karena bos yang menuntutnya bekerja terus menerus, bukan pula Diana yang tidak bisa membagi waktu pekerjaanya yang hasilnya dia harus lembur, tidak begitu. Diana hanya sengaja pulang lebih malam agar sesampainya di kost dia bisa langsung tidur dan tidak memikirkan hal-hal yang tidak jelas. Seperti menyalahkan diri sendiri atau menyalahkan segala yang terjadi pada hidupnya baru-baru ini. Diperjalanannya menuju kost, ia melipir ke arah kedai kopi dekat kost nya. Hanya untuk duduk santai sambil membaca novel yang telah ia beli 2 hari yang lalu di Toko Buku Sanubari. Bukan buku keluaran baru. Ia memilih novel Raksasa dari Jogja yang sebenarnya sudah sering ia baca namun novel tersebut hilang di kereta ketika ia hendak menyambangi tantenya di Surabaya da...

Pemeran Ekstra

Ternyata Tuhan ku tidak tidur. Ternyata Tuhan ku mengamati ku. Ternyata Tuhan ku sedang tertawa. Ternyata Tuhan ku mempermalukan ku. Ternyata.... aku sangat bodoh. Ternyata aku hanya pemain ekstra dari sebuah romansa rumit pemilik cerita yang usang. Pemain ekstra yang diberi nyawa hanya untuk meratapi nasib dan ketiban sial bertubi-tubi. Mengisi kekosongan situasi agar lebih menarik banyak penonton. Melolong bagai anjing hutan yang sedang melihat seekor mangsa, mengejar terus menerus walaupun ternyata itu hanya pantulan sinar rembulan, bukan mangsa. Sia-sia. Lelah tiada akhir. Pemain ekstra yang katanya sudah menjadi lebih baik, ternyata lebih buruk. Ironi.                 “Sudah sadar?” seorang wanita paruh baya menepuk pundak Diana                 “Hmmm... ternyata aku tidak lebih baik dari sebelumnya. Sangat sulit menjadi baik”...