Sambat Jarene
Hujan deras mengguyur sebagian kota pagi ini. Bangun tidur
dan mendengakr rintikan air hujan yang menghantam seng rumah tetanggak.
Berisik. Tetapi, bersyukur banget akhirnya kota yang beberapa bulan ini kering
kerontang diguyur jugak sama derasnya hujan. Alhamdulillah.
Drrrrttttt
Drtttttt.....
Sonia :
Rara,
hari ini agenda kemana?
Aku :
Ini
masih jam 6 subuh dan aku baru bangun. Udah nanya agenda hari ini aja lu
Sonia :
Sambat
nih.... temenin ke kedai kopi lah
Aku :
Kalau
sambat tuh shalat, jam 7 shalat dhuha sana
Sonia :
Beneran
nih, mau kagakk nemenin?
Aku :
Jangan
siang. Males. Pasti panas
Sonia :
Ah
elaaaah ini loh hujan, dingin dah diluar
Aku :
Berapa lama sih
lu tinggal di kota ini??? mau hujan badai pun klo udah selesai hujannya yah
panas 23 derajat akan menghampiri
Sonia :
Habis
magrib deh, gak ada matahari kan dirumah lu?
Aku :
Cusss.
Gak ada lah gila. Mau kemana? Jangan jauh2 males.
Sonia :
Penyakit lu
beneran kambuh yah. Gak jauh, deket rumah lu. Pasti lu gak tau kan ada kedai
kopi baru dekat rumah lu? Gue yang traktir. Seneng kan lu?
Aku :
Oke.
Seneng deh temanan sama lu. See you...
Kira-kira begitulah kalau temenku
satu itu lagi sambat. Dia bakalan ngejemput aku dan bakalan traktir. Totalitas kalo
kata dia. Hari ini adalah hari libur, tapi gak ada ngaruhnya sih soalnya aku
kan pengangguran. Semua tanggal dicalendar udah aku merahin semua. Nasib
anak nganggur tuh harusnya bangun siang, tapi aku berbeda. Udah lupa caranya
bangun siang. Bangun untuk shalat subuh dan gak bisa lanjut tidur. Walaupun lanjut
tidur juga paling setengah 7 dah bangun lagi.
Aktivitas seorang pengangguran gak
akan jauh-jauh dari bebersih rumah, mandi, makan, tidur lagi. Gitu aja
siklusnya. Me time yang boring. Tibalah
saatnya Sonia ngejemput aku. On time. Akupun senang.
Beneran ada kedai kopi baru dekat
dengan rumah. Harusnya lebih dekat lagi kalau saja Sonia gak mutar arah ke
jalan yang lebih jauh. Dia memang lebih suka menghabiskan waktu dijalan, curigaku
sih gitu. Sepanjang jalan Sonia ngoceh mulu tentang pacarnya. Sonia adalah
salah satu budak cinta yang amat teramat parah. Tiada hari tanpa sambat.
Sesampaianya di Kedai Kopi Palapa,
aku langsung pelik dengan nama kedai kopi satu ini. Gak salah nih ownernya
memberi nama kedainya mirip nama koperasi, iya, Koperasi Palapa yang ku maksud.
Kedainya kecil, tampak seperti rumah
lama karena memiliki atap bangunan yang agak rendah, teralis bangunannya juga seperti zaman Belanda dan berwana putih, terdapat tempat duduk di luar bangunan
tetapi aku lebih memilih duduk di dalam ruangan walaupun didalam ruangannya
juga tidak memilik air conditioner yang
penting aku berjauhan dengan laki-laki yang sedang merokok. Dinding kedai kopi
ini tidak seirama, sisi kanan berwarna abu dan sisi kirinya putih, kedai ini jugak
memilih untuk tidak memasang ubin, lampunya jugak berwarna kuning namun
menariknya lampunya berbetuk sangat unik, benar-benar seperti rumah zaman
dulu.
Seperti biasa ketika ke kedai kopi
aku memesan non kopi. Lambungku tidak ramah dengan kafein yang ada di kopi.
Sonia menceritakan tentang cerita LDR nya dengan Adit. Adit juga sahabatku. Adit
sedang melanjutkan kuliah masternya di Surabaya.
“Aku tahu dia sibuk sama kuliahnya, tapi kan
aku butuh perhatian jugak”
“Yah sabar, tugasnya banyak kan? Kan dia
dah bilang”
“Setidaknya chat ku dibalas dulu, jangan
dianggurin sampai berhari-hari”
“Telpon lah”
“Males ah”
“Kalau gak bilang, Adit gak akan tahu kalau kamu
gak nyaman sama sikap dia”
“Kalau dia balik marah gimana? Kamu tahu dia
kan Ra...”
“Paham sih kan sifatnya memang gitu. Kamu kan
udah 2 tahun sama dia, kalau gak bisa terima sifatnya yang suka marah kalau
setres mending udahan aja. Kesehatanmu itu loh..”
“Tapi ku sayang Ra...”
“Gini aja terus sampai aku nikah”
“Lu mau duluin aku nikah???”
“Yah enggak lah gila, sama siapa aku nikah?
Gini-gini aja hidupku”
“Jangan nikah sebelum aku nikah”
“Egois dasar. Gimana jodohlah”
Walaupun Sonia ini selalu curhat
tentang Adit yang dimana isi curhatannya itu sama tetap saja aku masih mau
mendengarkan curhatnya. Sahabat yang baik tidak akan bosan untuk mendengarkan
keluh kesah sahabatnya sendiri.
“Mba Sonia mau pesan apalagi?” potong
pelayan kedai
“Ini dulu deh, Mas”
“Baik Mba” pergi
Bentar... Bentar....
“Bentar deh, kok dia tahu nama lu?”
“3 hari berturut-turut aku kesini Ra” senyum
dikit
“Wah gila nih orang, lama-lama lu pacaran
aja noh sama mas itu, lumayan”
“Enggakk lah, baru lulus SMA”
“Hah? Lu udah tahu juga dia baru lulus SMA?
Bahaya ini sudah berbincang-bincang ternyata”
“Iyalaaaah, aku kesini sendirian terus yah
diajak ngobrol sama mas itu”
Drrrrrtttt....
Drtttttt.....
“Angkat
tuh Adit nelpon”
“Males
ah”
“Eh
gembel angkat, lu mau cuekin sahabat ku?”
“AH
ELAAAAAHHHHH”
Kira-kira begitulah akhir dari sesi
curhat Sonia, berakhir dengan Adit menelponnya dan aku hanya bisa menyeruput ice chocolate. 1 jam... 1 jam setengah....
oke, aku memutuskan untuk pulang menggunakan ojek online.
Komentar