Lara itu Dia
Memaafkan itu butuh waktu. Kira-kira begitulah ketika hati
harus dipaksa untuk menjawab. Menjadi pengertian itu juga butuh tenaga.
Kira-kira begitulah ketika hati harus dipaksa untuk bisa membaca situasi.
Memberikan waktu itu ada kalanya menjadi sebuah solusi. Tidak mudah memang tapi
harus belajar. Tidak mudah memahami sifat manusia, tapi itu adanya.
Jadi serba
salah pada akhirnya itu sudah pasti.
Sebenarnya menjelaskan sesuatu agar dimengerti itu terasa
sangat sulit. Tau kenapa? Karena memang butuh waktu. Berapa lama? Itu tergantung,
jangan suka menentukan deadline
karena memang tidak bisa dijadwalkan. Biarkan hati yang memilih waktunya,
tunggu saja.
Berat memang menunggu waktu itu akan datang walaupun
sebenarnya waktu itu terasa begitu cepat berganti. Menjadi pemaaf ternyata
tidak mudah, coba rasakan dan katakan padaku bagaimana rasanya. Mungkin kita
dijawaban yang sama.
Tidak ada usaha yang sia-sia, ketahuilah diam-diam kamu sedang
berproses memaafkan sebuah kesalahan. Tidak pernah kamu katakan tapi itu akan
kamu lakukan. Memiliki hati sekeras intan akan tetap terpecahkan jika memang
harus dijadikan perhiasan indah nan mahal. Tau maksudnya? Itu akan indah pada
akhirnya.
Proses memafkan seseorang akan menjadi bukti bahwa kamu
sedang membuat keputusan hebat. Berdamai
pada diri sendiri itu sulit, terutama jika lara itu Dia. Dia yang pernah kamu tulis
namanya diawal kalimat, pernah kamu sebut namanya jika memulai curhat, pernah
menjadi prioritas, pernah menjadi daftar orang mengesankan, pernah menjadi awal
dan akhir dalam doa, pernah merangkai cerita akan berakhir bersama, semuanya
pernah menjadi utama dihatimu.
Karena Dia, tentu lara itu akan terasa lama untuk menjadi seorang
pemaaf.
Komentar