Aku dan Ramadhan Tahun Ini

narsis dikit deh yak

Ramadhan tahun ini spesial, kenapa? Alasan pertama karena awal puasa sampai akhir di rumah, iya, udah gak di kota rantauan. Udah gak sedih. Sahur gak bingung mau makan apa. Kebiasaan sahur pas masih kuliah itu udah masak nasi sendiri dan beli lauk di luar tapi sebelum tidur udah disiapin tuh piring sama sendok di samping magic jar dan magic jar disamping kasur. Apa yang aku lakukan? Manasin lauk di magic jar trus langsung ngambil nasi dan makan tanpa nyalain lampu. LAH NGAKAK. Tapi memang beneran kok itu yang terjadi. Semalas itu aku jadi manusia. Malas berdiri dan melangkah nyalain lampu. Kebiasaan aneh yang jangan ditiru.

Alasan kedua, ramadhan tahun ini alhamdulillah udah mulai menutup aurat. Meskipun masih menggunakan jilbab pendek tapi selangkah lebih baik kan. Sudah sadar. Alasan ketiga, karena sudah di rumah jadi lebih rajin teraweh. Pas masih kuliah banyak banget kendala untuk teraweh, mulai dari masjid yang lumayan jauh (gak bisa jalan kaki kudu naik angkot) sama tugas kuliah yang selalu numpuk tapi alhamdulillahnya itu semua sudah bye bye.

Lulus bulan November dan belom dapat kerja. Sedih? Enggak. Lah kok gitu? Belom dapet kerja bukan berarti harus sedih dan merundung bukan? Semua sudah ada jalannya. Disyukuri aja semuanya. Jangan menilai diri kita lebih buruk dari orang lain hanya karena teman-teman kita sudah dapat kerja eh kita kok belom. Semua orang punya rejekinya masing-masing. Belom tentu yang belum dapat kerja itu sedih, BIG NO. Aku punya waktu buat me time atau family time.

Ramadhan tahun ini aku menggunakan jilbab dan nikmat yang diberi Allah untukku luar biasa. Keinginan berjilbab sudah lama tapi selalu saja banyak halangan, iya, halangan yang dibuat sendiri sebenarnya. Gak siap. Masih mau ngecat rambut warna-warni, masih suka nyatokin rambut jadi aneh-aneh, masih mau pake rok pendek (paling pendek di atas lutut sedikit kok), kalau ngomong masih suka kasar, dan banyak deh alasan lain. Tapi suatu saat keinginan berjilbab terucap seperti nazar. Sebenarnya gak boleh sih karena menggunakan jilbab hukumnya wajib tapi aku malah bernazar dan nazar itu seketika terlupakan sampai pada saat Allah menegurku.

Teguran yang benar-benar buat takut. Mungkin lain hari akan aku ceritakan teguran seperti apa yang aku dapatkan. Dari dulu gak mau pake jilbab kalau belum benar-benar siap, takut itu hanya keinginan sesaat yang nanti bisa dibuka lagi. Aku gak seperti itu. Melepaskan jilbab itu dosa dan aku takut. Seperti mempermainkan perintah Allah. Sekelilingku banyak yang seperti itu dan pada saat itu sebenarnya ingin sekali bertanya “kenapa kamu membuka dan memakai jilbab lagi?” apakah dia hanya bermain? Jika memang belom siap tidak perlu dipakai dulu, tunggu aja sampai kamu benar-benar ingin mengenakannya. Tapi nyali ku gak sebesar itu untuk bertanya karena itu urusan dia dan Allah, tidak ingin mengurusi hidup orang walaupun sebenarnya sesama muslim harus saling mengingatkan. Sampai saat ini juga pertanyaan seperti itu akan selalu ku simpan sendiri saja.

Banyak pekerjaan yang mengharuskan kita melepaskan jilbab. Aku tahu. Banyak perusahaan yang seperti itu, teman-teman aku banyak yang curhat mengenai itu. Ada yang membuka jilbabnya ada pula yang mempertahankan jilbabnya dan memilih untuk keluar atau menolak tawaran kerja tersebut. Aku sangat appreciate teman aku yang memilih untuk tetap menggunakan jilbabnya, pilihan yang sulit bagi mereka, aku tahu persis.

Seorang teman mengatakan “kenapa harus melepaskan jilbab karena pekerjaan? Keharusan berjilbab itu wajib dan mutlak perintah Allah, Sang Pencipta, Sang Pemberi Rezeki. Jika aku menolak pekerjaan ini pasti Allah akan memberikan pekerjaan lain yang terbaik bagiku” reaksi ku? Haru banget. Apa yang aku pikirkan sama seperti itu. Tidak seharusnya kita melepaskan jilbab hanya karena pekerjaan. Tapi itu semua tergantung keyakinan masing-masing. Tak ingin menggurui karena aku lelah banyak yang mengatakan “Tahu apa kamu. Kamu belom masuk dunia kerja” oke cukup.

Menggunakan jilbab di awal itu pasti masih di bayang-bayangin ingin membuka jilbab kembali, setiap perempuan yang baru mengenakan jilbab pasti tahu rasanya. Itu juga terjadi padaku kok. Tapi alhamdulillah aku bisa melewatinya. Dulu aku sering mengatakan “jilbabin dulu hatinya baru kepalanya” itu kalimat asal yang aku ucapkan untuk menolak menggunakan jilbab jika ada teman yang bertanya. Yang aku pikirkan saat itu banyak wanita berjilbab yang hatinya jahat dan mulutnya benar-benar kayak ular yang selalu saja menyakiti perasaan orang lain. Tapi, ketika sekarang sudah menggunakan jilbab aku bisa rasakan bagaimana jilbab menjadi pengingat diri sendiri ketika ingin berkata kasar atau sekarang mah udah ada remnya. Jangan salahkan jilbabnya kalao ada perempuan yang suka menyakiti atau jahat sesungguhnya itu pribadinya bukan jilbab yang ia kenakan.

Hal yang paling penting dari alasan aku menggunakan jilbab adalah ketika ada anak perempuan yang belom menutup aurat maka orangtua lah yang menanggung dosanya. Gaaakkk maooo!!!! Orangtua udah susah mendidik anaknya membesarkan anaknya malah menanggung dosa yang diperbuat anaknya sendiri, ga mau.

Hal baik terjadi ketika aku menggunakan jilbab adalah ketika aku melamar ke salah satu perusahaan BUMN oil and gas, tidak lama setelah aku melamar aku mendapat panggilan interview. Tidak lama menunggu jawaban dari CV yang aku kirim. Sungguh luar biasa. Interview pertama ku di perusahaan besar meskipun gagal sekalipun itu gak masalah yang penting aku punya pengalaman interview dan interview pertama di perusahaan besar. Seminggu kemudian aku dinyatakan tidak lolos tapi ada department lain yang tertarik dengan CV aku dan aku diminta untuk melakukan interview lagi. Luar biasa kata ku dalam hati. Lagi-lagi aku gagal di interview kedua, sedih? Enggak, malah bersyukur. Setidaknya sekarang aku tahu rasanya interview di perusahaan besar. Dimanapun aku bekerja nanti entah perusahaan besar atau kecil semua harus di syukuri saja. Gak tau kenapa sekarang lebih tenang aja bawaanya. Semua serba disyukuri.

Kesuksesan seseorang dinilai dari seberapa bahagia dia hidup bukan dari besarnya gaji yang dia dapat atau seberapa tinggi jabatannya karena gak semua orang yang seperti itu merasa bahagia.

udahan deh yah curhatnya..
selamat menjalankan puasa :)


Komentar

Anonim mengatakan…
cerita yg seru....
semangat yo semoga bisa mendapat pekerjaan yg di inginkan dan semoga berkah๐Ÿ˜Š๐Ÿ‘๐Ÿป

Postingan populer dari blog ini

Ketika Hujan Datang #3

Pendengar Diana

Bello, I'm Back on Blog