Cerita Mipo
Tak ada yang lebih indah daripada
cerita cinta bangku sekolah. Semakin di ingat semakin menggelitik. Lebay. Tapi bener,
pahit pun jadi tawa. Setuju gak? Semua orang sepertinya merasakan cinta monyet.
Kalau kamu tidak berarti kamu termasuk anak-anak culun di sekolah mu. Kurang berwarna.
Hidup kok monochrom.
Aku jadi ingin bercerita tentang cinta monyet ku yang memang monyet banget. Aku cerita dari cinta monyet yang manis dulu aja kali yah. Begini ceritanya. Eh, sebentar deh gak enak kalau tiduran gini. Aku duduk dulu di kursi panas (read: kursi belajar). Mana yah buku diary ku. Oh ini dia. Lah, pulpen jamur ku dimana yaah.. Hmmm sepertinya masih di tas sekolah. Aku ambil dulu. Sebentar. 2 menit, kelamaan yah yaudah semenit saja.
Oke pulpen jamur siap. Terimakasih sudah menunggu. Siap yah, jadi begini ceritanya...
Namaku Mipo. Mipo itu panggilanku sekaligus nama lengkapku. Iye aku tau pendek banget. Aku perempuan. Aku pemalu sedikit menggemaskan. Kesekolah selalu pakai bando. Aku punya segudang bando, mau warna apa aja aku ada. Gimana gak banyak lah mamaku punya pabrik bando. Ini serius. Aku waktu itu masih duduk di kelas 5 sekolah dasar. Ceritanya aku naksir cowok dari kelas sebelah nih namanya Abi.
Abi ini pindahan dari Malaysia baru 2 hari dia sekolah disini. Semua perempuan di angkatan ku heboh banget katanya sih manis banget anaknya. Aku sih biasa aja, dalam hati bilang dasar lebay paling juga itu muka anak baru sama kayak cowok-cowok standar di sekolah ini. Biasa. Belom naksir karena aku belom liat bentukan mukanya gimana.
Sampai suatu hari ada sosok laki-laki yang nangkring di depan pintu kelas aku. Waaahhh siapa tuchh kok manis banget, nungguin siapa sih dia? Loh loh kok senyum ke aku sih. Nah dari situ aku mulai gemetar dalam jiwa, ada laki-laki asing yang senyum-senyum sambil ngeliatin aku dari kejauhan. Satu hal yang ada di otak ku waktu itu adalah ternyata jatuh cinta itu sederhana, memang suatu yang sederhana itu lebih membahagiakan. Padahal gak tahu itu senyuman ke siapa malah bisa buat jatuh cinta.
Lonceng sekolah berbunyi, aku dan teman-teman bubar dari kelas. Aku curi-curi pandang ke anak laki-laki itu dan kulihat dia tersenyum lagi ke arahku sambil berjalan menuju aku. Sumpah deg-degan parah, dan langsung mules. Eh gataunya dia malah nyamperin temen aku yang namanya Doni. Doni ini duduk sebangku dengan aku. Pantes. Ahh gembel...
Besoknya aku tanya Doni tentang anak laki-laki sang pemilik senyuman manis itu siapa. Aku pun dapat informasi lengkap. Namanya Abi, pindahan dari Malaysia. Aslinya orang indonesia cuman pas dia brojol ayahnya dinas di Malaysia dan baru ini balik ke Indonesia karena ayahnya sudah selesai dinas. Doni dan Abi bersahabat karena ayah mereka satu kampung waktu di Makasar dulu. Tiba-tiba Doni bisa membaca pikiran ku, dia bilang begini. Abi gak suka perempuan yang tiap harinya pake bando, karena itu norak. Tidak cantik. Sejak saat itu aku membencinya, aku jadi suka memasang muka marah setiap Abi main ke kelasku. Menghina aku yang selalu memakai bando itu sama saja melukai harga diriku. Ini ciri khas ku. Aku benci.
Ketika kenaikan kelas tiba, sehari sebelum pembagian raport setiap kelas sibuk untuk menghias kelas masing-masing. Tradisi di sekolah ku memang selalu begitu. Itu yang ditunggu-tunggu sama seluruh murid yang ada di sekolah. Ketika hari pembagian raport akan ada banyak makanan, minuman, souvenir yang disediakan oleh orang tua murid tiap kelasnya. Uang khas kelas selama setahun akan diserahkan kepada para orang tua untuk mengatur jumlah dan jenis makanan, minuman, souvenir pada hari pembagian raport tidak jarang orang tua murid ada yang memberikan sumbangan juga untuk kami. Di sekolah kalian juga begitu ga sih?
Sehari sebelum pembagian raport kelasku sibuk menghias kelas. Ada yang menggunting kertas warna-warni, meniup balon, membuat mobil-mobilan besar yang nantinya akan diisi dengan souvenir, ada yang sibuk menata meja dan kursi lalu temanku Dinda masuk ke kelas dan berteriak..
“Teman-teman
kelas 5B dekorasinya bagus banget mereka temanya wayang”
“Yang
bener kamu? Pasti Pak Adi membantu menggambar wayang-wayangnya deh”
“Iyalah,
secara Pak Adi kan wali kelasnya dan pinter menggambar pasti di bantu”
“Kita juga gak kalah bagus kok teman, apalagi Bu Sri
kan tadi membelikan kita banyak balon. Ayooo cepetan menghiasnya baru kita
keliling ke kelas-kelas”
“Iyaaa,
kita lihat besok makanan dan minuman mana yang lebih banyak”
Satu kelas tertawa bersama-sama. Kalau di ingat-ingat ternyata masa sekolah ku sangat menyenangkan. Kami berkompetisi tapi jarang menjatuhkan lawan. Saling menguatkan. Jadi mewek. Pukul 14.00 kami semua masih sibuk menghias kelas dan Doni menghampiriku yang sedang menggambar.
“Nih
buat kamu. Dibacanya sekarang yah”
“Hah?
Dari siapa? Kok kamu manis banget”
“Bukan
dari aku kali, cepet buka baru itu baca”
“Harus
di baca sekarang? Aku kan lagi gambar”
“Gak
harus sekarang sih, tapi aku penasaran”
“Surat
dari siapa Don? Mana ga modal banget pake kertas lipat gini”
“Dari
anak kelas sebelah”
“Aku baca pas pulang aja yah, paling juga kalian iseng buat surat-surat
begini buat hiburan kalian”
“Kalau
itu surat kaleng gimana?”
“Surat kaleng? Masa iya ada yang benci aku Don? Aku kan ga pernah buat
masalah. Aku kan gak banyak tingkah kayak kamu”
“Udah
cepetan kamu baca”
“Iyeee
iyeeee, bacanya di luar aja yuk. Gak enak nih kalau kedengeran temen-temen”
Aku dan Doni pergi ke taman yang di
dekat perpustakaan sekolah. Aku mulai membuka kertas lipat berwarna biru yang
dibentuk jadi bebek. Aku membacanya. Aku kaget. Aku tatap Doni dengan muka
bingung.
“Apa
isinya?”
“Surat...”
“Aku
tau itu surat, isinya tentang apa Mipoooo????”
“Ini
beneran dari Abi? Kok begini isinya?” aku memberikan kertas itu ke Doni
Doni sontak tertawa kecil dan tidak lama terbahak-bahak. Doni masih melihatku dengan muka penuh kebingungan.
“Dia
suka padamu”
“Gak
mungkin kan kamu bilang waktu itu....”
“Aku
kan waktu itu bercanda. Abi tidak pernah bilang begitu kok”
“Jadi
kamu berbohong?”
“Iya”
“Kenapa?”
“Aku ingin melihat reaksimu. Aku sedikit sok tahu waktu kamu
bertanya-tanya terus tentang Abi. Dari situ aku mulai curiga”
“Kok
jahat sih kan aku malu”
“Makanya
jadi cewek jangan gampang percaya, apalagi sama aku. Jadi gimana?”
“Dia
cuman bilang padaku kalau dia suka padaku. Tidak nembak”
“Jadi
sekarang ga akan pasang muka marah kalau ketemu Abi?”
“Mungkin aku bakalan nunduk kalau ketemu dia. Aku gak kuat kalau dia
senyum dengan kedua lesung pipitnya itu”
“kamu beruntung, masih ada cowok yang suka padamu meskipun kamu dekil dan
selalu pakai bando kemana pun”
Surat itu tidak pernah ku balas.
Abi menyukaiku dan aku menyukainya. Tapi kami pada saat itu hanya menjadi teman
yang mungkin lebih dekat dari biasanya. Kami tidak pernah sms-an karena aku
tidak punya handphone. Sesekali Abi
menelpon ke telpon rumahku. Kami seperti itu hingga kami kelas 6. Setiap Abi
menelpon ku, aku selalu bilang ke mama kalau itu seputar tugas rumah atau
tentang ekskul menggambar. Padahal aku dan Abi tidak sekelas dan Abi tidak ikut
eksul menggambar.
Kalau di zaman sekarang bisa dijelaskan aku dan Abi masuk ke friendzone atau teman tapi mesra atau hubungan tanpa status. Apapun sebutannya yang jelas cinta monyetku ini bahagia sampai akhirnya ketika SMP Abi harus pindah ke Jawa dan sejak itu kami tidak pernah saling berkomunikasi. Perpisahan selalu membuat sedih.
Komentar