Sepasang Pajama

Mungkin pada sebagian banyak orang mencari orang yang benar-benar bisa dijadikan belahan jiwa terasa sulit, dimasa sekarang. Lalu, apakah orang zaman sekarang tidak pernah melihat kami? Kami hidup berpuluh-puluh tahun sebelum mereka tidak pernah berkeluh kesah tentang dengan siapa kami akan hidup sampai akhir hayat. Perjodohan yang katanya kuno bisa lebih membuktikan bahwa kami cepat menemukan jodoh dibandingkan harus berpacaran bertahun-tahun tetapi berpisah.

Kami menjalani hidup dengan penuh kejutan, baiklah saya akan ceritakan bagaimana saya dan istri saya menjalani hidup bersama. Kami tidak pernah saling tahu kami akan menjadi sekarang. Kami dijodohkan karena orangtua kami bertetangga. Saya tidak pernah mengeluh tentang siapa yang dijodohkan pada saya, bagi saya jika memang itu pilihan orang tua sudah jelas itu yang terbaik, jadi buat apalagi saya membuang waktu saya untuk mencari wanita lain yang belum tentu yang terbaik. Begitu pula istri saya, istri saya berkata pada saat itu jika saya bukan orang yang buruk. Betapa senang saya mendengar ucapan istri saya ini, saya merasa pria paling beruntung.

Hidup kami sederhana, tidak masalah rumah kami masih beralaskan pasir, toh saya dan istri bisa membesarkan kedua putra kami hingga mereka duduk di bangku kuliah dan berhasil menggunakan toga. Saya rasa ukuran sepasang orangtua yang berhasil adalah ketika kami sebagai orangtua yang serba pas-pasan tetapi masih bisa menyenangkan dan memberikan fasilitas yang layak bagi anak-anak kami.

Saya jadi ingat ketika banyak sekali teman-teman anak saya yang mengejek anak saya ketika anak saya menggunakan handphone, iya, dulu memiliki handphone sudah dikatakan kaya (banyak uang/konglomerat) karena barang langka. Banyak temannya mengakatan orangtuanya banting tulang, kerja kesana kemari eh anaknya malah suka membeli barang-barang mewah. Saya rasa ini salah. Akan saya luruskan. Saya dan istri bekerja keras untuk apa? Untuk menyenangkan anak tentunya, anak bahagia kami pun bahagia. Tidak ada hal yang membahagiakan ketika anak kami pulang kerumah dan bercerita tentang bagaimana ia berteman dengan teman-temannya tanpa perlu malu karena pas-pasan. Apalagi saya tahu benar bagaimana saya mendidik anak saya.


“Kami dulu miskin tidak pernah merasakan barang mewah jadi biarkanlah kami membalas kebahagiaan itu di generasi kami selanjutnya”

Kira-kira begitulah saya menjawab apabila ada orang yang bertanya tentang kenapa anak saya sangat mewah sedangkan kami harus bekerja keras. Tidak salah bukan?

Ternyata apa yang saya dan istri lakukan ini membuahkan hasil, putra-putra kami tumbuh menjadi pribadi yang halus dan penuh cinta. Mereka juga tentunya memiliki akhlak agama yang baik juga. Hingga suatu hari di usia pernikahan kami yang ke 55tahun, kedua putra kami datang bersama istri dan anak-anak mereka untuk memberikan sebuah kado pada saya dan istri.

Ketika saya buka kadonya ternyata berisi sepasang pajama. Saya dan istri bingung kenapa pajama? Kenapa mereka tak membelikan kami emas? Rumah? Berlian? Lalu mereka menjawab


“ayah..ibu.. bukankah selama ayah dan ibu menikah tidak ada satu pun barang yang special untuk kalian berdua? Kami memilih sepasang pajama ini karena tentu kami tahu setiap hari kalian berdua akan memakainya bersama. Biarkan lah pajama ini menemani ayah dan ibu hingga kalian merasakan yang namanya romantis”

Sepasang pajama ini sangat berarti bagi saya, saya selalu ingin memiliki sebuah benda yang bisa saya kenang bersama istri. Namun saya lupa kapan hal itu pernah saya pikirkan yah? Hingga kedua putra kami mengingatkan kembali apa yang menjadi keinginan saya sejak lama. Biarkan lah sepasang pajama ini menemani saya dan istri sampai saat kami dipisahkan oleh langit dan bumi. Karena ingatan terakhir kami berdua adalah menggunakan pajama pasangan bersama dan tidur dengan tersenyum. Indah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Hujan Datang #3

Pendengar Diana

Bello, I'm Back on Blog