Ketika Hujan Datang #2
Picture from pinterest
Maura tahu semakin ia merindukan
sosok Marcel hatinya sakit. Sakit harus terus bertanya kesalahan apa yang telah
ia perbuat. Ada apa? Apa salahku? Kenapa begini? Mau mati rasanya menebak-nebak
jawaban dari semua pertanyaan itu.
“Sampai
kapan aku harus begini, Cel?” berbaring dan menutup matanya. Tak disadari air
mata turun dari kelopak matanya
Maura mengambil dengan kasar buku
diary yang ada diatas meja yang tak jauh dari ia berbaring. Ditulisnya kata
demi kata dengan bolpoin karakter smurf. Sebuah puisi.
Jika pagi bertemu malam
Akankah siang cemburu?
Akankah siang marah?
Atau siang akan diam tanpa bertanya
Jika hatiku ini karang, siapkah ombak memecahkan?
Butuh berapa lama hingga aku menjadi batuan kecil?
Mengobati hati yang terluka sendirian, bisa kau bayangkan?
Pergi tanpa berkata apapun
Benar kah itu?
Atau selama ini memang tidak ada apa-apa
Aku yang bodoh menganggap semuanya ada
Bolpoin berhenti menulis di kata
terkahir, seketika Maura tersadar dengan apa yang barusan ia tuliskan. Aku yang bodoh menganggap semuanya ada.
“Apakah
ini halusinasi ku selama ini? Selama ini aku menganggapnya ada namun nyatanya
tidak ada” menutup diary dan memejamkan mata sembari mengingat masa lalu.
Jam weker berbentuk jamur merah
tiba-tiba berdering sangat keras, belum selesai berdering handphone Maura pun
ikut bergabung membuat keributan di pagi hari. Maura selalu menyetel alarm
pukul 05.00 dan seperti biasanya ia tetap tidak akan bangun. Maura akan bangun
ketika alarm terakhir berdering pada pukul 06.00. Pada saat itu Maura akan
kalang kabut untuk cepat-cepat mengambil air wudhu dan shalat subuh. Aktifitas
pagi akan dimulai untuk menscroll home facebook miliknya. Berharap ada sesuatu
yang menarik untuk dilihat.
Tiiiiiiinggggggggg
Tiiiiiiinggggggggg
Maura kembali menatap layar
leptopnya yang masih terbuka home facebooknya namun sekejap ia melamun melihat
seseorang mengirim chat padanya. Nama orang itu Devian Marcel. Wait wait wait
ini ada yang salah. Maura membuka halaman facebook milik Devian Marcel dan
terdiam.
Devian Marcel :
Haiii
Ra
Rajin
banget pagi-pagi udah bangun padahal hari sabtu
Maura :
Ini
beneran Marcel teman SD aku?
Devian Marcel :
Memangnya
kamu ada berapa banyak teman dengan nama Devian Marcel? Haha
Maura :
Oh, aku cuman ingin memastikan saja soalnya ini
pertama kalinya kamu menyapaku lagi
Devian Marcel :
Maaf
kan aku Ra, aku tidak pernah menyapamu sama sekali.
Apa
kabar?
Maura :
Baik,
kamu?
Devian Marcel :
Baik
juga, Di bandung? Aku akan ke bandung minggu depan.
Maura terkejut ketika membaca chat
terakhir Marcel. Bagaimana dia tahu aku
di bandung, aku tidak pernah memberitahunya bahkan update facebook juga tidak
pernah. Mencurigakan. Maura kembali membalas chat Marcel.
Maura :
Benarkah?
Bagaimana kamu tahu aku ada di Bandung?
Devian Marcel :
Berikan
aku id line kamu, jika aku sampai Bandung aku akan mengabarimu
Tidak menjawab pertanyaan aku dan minta id line, sungguh menyebalkan. Ke Bandung?
Minggu depan? dan ingin mengabari aku? Buat apa? Ingin membuat aku baper? Sungguh
melelahkan. Aaaaaahhhhh.......
Maura memberikan id line miliknya dan Marcel hanya membacanya. Tidak ada ucapan terimakasih.

Komentar