Ketika Hujan Datang #End

picture from pinterest 
            
Maura bangun lebih awal dari jadwal bangun paginya, ya, pukul 05.00 Maura telah bangun. Shalat Subuh. Sarapan roti dan susu cokelat. Mandi. Mengeringkan rambut panjangnya. Mengoleskan sunscreen pada wajahnya lalu bb cream dan terakhir mengulaskan liptint merah di bibirnya. Dilanjutkan dengan memilih outfit apa yang bagus untuk ia pakai. Dilihatnya jam dinding mengarah ke pukul 09.40. Maura menghabiskan waktu 20 menit hanya untuk memilih dan outfit yang Maura pilih adalah jeans hitam, kaos polos putih, kemeja kebesaran berwarna merah, sepatu sneakers berwarna hitam yang telah usang. Cukup lebay dengan pilihan yang biasa saja. Wanita selalu seperti itu pada umumnya.
           
Maura menunggu Marcel dengan menonton reality show yang dipilih secara random. Apa saja yang bisa ditonton untuk menemaninya menunggu. Handphone Maura berdering.


Marcel :
            Keluarlah. Aku sudah di depan gerbang

Maura :
            Oke


Maura bergegas berangkat dan tak lupa mengunci pintu kamar kostnya. Maura membuka pintu gerbang kostnya dan langsung melihat Marcel yang sedang menunggunya. Marcel menatap mata Maura dan seketika jantung Maura berdegub sangat kencang. Lebih kencang daripada melihat Bimo, seorang cowok dari fakultas bahasa yang sudah lama Maura kagumi.


            “Wow cepat sekali kamu keluarnya” Marcel tersenyum

            “Apa? Perasaan mu saja kali hehehe” Maura ketawa kecil sambil berpikir kembali 
bahwa ia sebenarnya setengah berlari

            “Yuk kita berangkat”


Marcel dan Maura menelusuri kota Bandung dengan sepeda motor. Maura tidak tahu sepeda motor punya siapa yang Marcel pinjam. Asing rasanya tiba-tiba sekarang sedang goncengan dengan Marcel. Sosok yang selama ini selalu Maura pikirkan namun sekarang ia berada di belakang punggung yang sangat dirindukan itu. Bisa sedekat ini setelah menunggu sangat lama membuat Maura ingin menangis, menangis bahagia.


            “Kamu mau ngapain kesini?” Tanya Maura begitu sepeda motor itu berhenti di 
parkiran depan gedung Telkom

            “Kamu ga bisa baca apa depan kamu itu apa” menggantungkan helm di spion

            “Jangan gila deh, kamu ngajak aku kesini buat bayar telpon rumah lo? Bayar 
internet?”

            “HAHAHAHAAA Santai kali. Aku disini cuman parkir aja kok” Marcel membantu 
membuka pengait helm milik Maura yang agak sulit dibuka

            “Terus kita mau kemana?”

            “Tuh kita kesana”

            “Gedung sate? Jangan bilang kamu mau foto di depan sana” Maura menyipitkan 
matanya

            “Aku kan turis disini, apa tidak boleh foto di depan gedung sate? Semua yang datang ke Bandung pasti akan melakukan ini. Namanya juga icon kota ini”

            “Aku malas kalau disuruh fotoin kamu dsana”

            “Kalau gitu biar aku saja yang fotoin kamu, Ra. Ayo” Marcel meraih tangan Maura 
dan bergegas berjalan          

            “Tidak perlu parkir disana kalau memang mau foto di gedung sate. Kita bisa parkir di dekat sana”

            “Aku tidak mau. Aku ingin berjalan agak jauh sambil mengobrol denganmu”


Maura tidak menjawab Marcel. Maura lebih memilih untuk diam. Diam lebih baik. Sampailah mereka berdua di depan gedung sate. Marcel mengeluarkan kamera SLR dari tasnya dan sibuk memotret. Memotret semua yang ada di sekeliling kawasan itu. Tidak ada perbincangan sama sekali. Marcel hanya motret-motret disekeliling gedung sate. Tidak lama mereka kembali ke parkiran dan melanjutkan untuk mengunjungi tempat lainnya. Maura tidak tahu akan dibawa kemana dan tidak ingin bertanya, sampai Marcel bertanya kepada Maura ketika mereka memasuki kawasan balaikota.

            “Kamu lapar ga?”

            “Tidak. Aku belom lapar, selesaikan saja kegiatanmu hari ini baru kita makan”

            “Serius? Bisa aku percaya omonganmu?”

            “Tentu saja”


Sepanjang jalan Marcel hanya tersenyum dan sesekali melirik ke spion untuk melihat Maura. Tujuan selanjutnya adalah Braga.

            “Braga, Alun-alun, Asia afrika barulah kita makan”

            “Terserah kamu saja”


Maura mengikuti Marcel yang berjalan di depannya dan sibuk memotret. Maura tidak tahu harus berbicara apa padahal ada jutaan pertanyaan yang ingin ia tanyakan namun entah kenapa sekarang Maura sangat bingung memulainya dari mana. Cekreeek....

            “Kamu memotret ku?” Maura terkejut

            “Iya”

            “Kenapa? Aku memperbolehkanmu memotret ku? Potret lah yang lain” Maura kesal, dan meninggalkan Marcel.

            “Jika kamu saja sudah jadi object yang indah kenapa harus mencari object lain?”

            “Apa? Kamu bilang apa tadi?” Maura menoleh menatap Marcel

            “Tidak apa-apa” Marcel tersenyum

            “Kamu tahu caranya pergi, tapi kenapa tidak tahu caranya datang?”

            “Akhirnya kamu membahasnya, Ra. Akan kujelaskan ketika kita makan siang”


Sepanjang jalan Maura hanya menyalahkan dirinya sendiri kenapa ia menanyakan itu duluan. Maura memperhatikan raut wajah Marcel sepanjang jalan. Sama saja. Mereka berdua memasuki salah satu cafe yang ada di Braga. 15 menit setelah memesan makanan tidak ada yang memulai pembicaraan.

            “Aku pamit ketika aku pergi”

            “Ya? Pamit?”

            “Kurasa kamu tidak membuka kertas binder milikmu itu. Aku menuliskan sesuatu 
disana”

            “Binder? Binder yang mana?”

            “Binder kecil berwarna biru donker dimana kita dulu sering menuliskan sesuatu 
bergantian”

            “Apa yang kamu tulis?”

            “Jadi benar kamu tidak membacanya. Sudah aku duga” Marcel tersenyum kecil

            “Kenapa tidak ngomong langsung?”

            “Aku takut melihatmu menangis. Kamu dulu sangat cengeng. Itu membuatku takut”

            “Gak lucu. Alasan tidak dapat aku terima” Maura menyipitkan matanya dan sedikit 
kesal

            “Jika memang tidak ingin aku datang. Kenapa membalas pesanku? Kamu bisa 
abaikan itu” 

            “Karena itu.... kamu. Jika bukan kamu aku tidak akan membalasnya”

            “Jika aku menahanmu disini dan menyuruhmu menunggu apakah kamu mau?”

            “Sudah aku lakukan itu selama 8 tahun. Tidak perlu bertanya lagi”



Marcel mengeluarkan sepucuk surat berwarna biru dan memberikannya kepada Maura. Maura membacanya dengan ekspresi berubah-ubah.






Tuhan mentakdirkan hujan sebagai alarm untuk mengingatnya. Hujan kupilih sendiri sebagai waktu aku untuk mengenang masa kecilku dengannya. Hujan kupilih sebagai penyambutan kembalinya dia kepadaku. Hujan pula kupilih untuk aku berkata padanya bahwa aku bukanlah orang bodoh yang selama ini menunggu tidak jelas. Hujan saksi bahwa aku bahagia sekarang dan mendapatkan jawaban atas pertanyaanku sendiri. Dia tetap menyayangiku seperti dulu. Sebagai teman atau lebih dari teman. Biarkan aku menunggu hujan selanjutnya karena aku tahu ketika hujan datang aku pasti menemukan jawabannya.    

Komentar

kometiga mengatakan…
Next cerpen sci-fi please
indrianita mengatakan…
terimakasih masukannya. diusahakan yah :)

Postingan populer dari blog ini

REVIEW : VIVA GREEN TEA TONER

Bello, I'm Back on Blog